Minggu, Desember 01, 2013

Keajaiban dari The Spirit Of Java

“Iiii, pengen ke Solo.”

Ucapan tersebut begitu saja muncul, seteleh teman saya yang bernama Gea bercerita tentang Solo. Apalagi setelah saya membaca berita dan artikel di internet tentang Solo. Siapa sih yang tidak ingin ke Solo? The Spirit of Java (Jiwanya Jawa) begitulah slogan pariwisata Surakarta atau biasa disebut Solo. Yang memiliki tempat wisata yang keren bin WAW. Apalagi kulinernya itu loh, bikin saya ngiler dan pengen pake banget. Banyak sekali tempat bagus dan keren yang Gea ceritakan ke saya. Apalagi saya yang hobinya suka jalan-jalan. Bikin kaki saya gatal buat segera kesana, hehehe.

Dari semua cerita dan survey saya di internet, berikut tempat-tempat keren pilihan saya. Sekaligus tempat yang sangat dan sangat ingin saya kunjungi.     



Si Hijau di Solo

Tempat pertama yang ingin saya kunjungi itu Grojogan Sewu yang artinya “Air Terjun Seribu”, tetapi bukan berarti jumlah air terjunnya ada seribu. Maksud dari sewu yang berarti seribu ini adalah seribu pecak. Yang artinya satuan jarak yang digunakan untuk mengukur jarak ketinggian air terjun. Grojogan Sewu adalah salah satu wisata alam yang terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, sekitar 27 km sebelah timur Solo. Yang membuat saya jatuh hati dengan tempat ini adalah air terjunnya adalah yang paling tinggi ke 12 di Indonesia dan paling tinggi di Jawa Tengah. Yang mana ketinggiannya sekitar 81 m. Tentu ini membuat saya semakin penasaran seperti apa sih tingginya?

Di sepanjang perjalanan menuju Grojogan Sewu, kita bisa menikmati pemandangan indah berupa persawahan dan aktivitas penduduk di pagi hari. Selain air terjunnya yang eksotik, disana juga memiliki fasilitias yang seru seperti, flying fox, arung jeram kecil, duta playground dengan pemancingannya dan arena outbond dengan taman lalu lintas, kereta pohon dan kolam renang bagi orang dewasa maupun anak-anak. Sepanjang mata memandang terhampar pepohonan yang masih rindang dan susasana yang sejuk tentunya. Sambil beristirahat dan santai di Gazebo, kita bisa melihat sekawanan monyet ekor panjang yang jinak.

Teman saya (Gea) di Air Terjun Grojogan Sewu

Teman saya (Gea) di Kolam Renang Grojogan Sewu


Air Terjun Jumog
Belum puas rasanya kalau cuma mengunjungi satu tempat wisata saja. Tempat selanjutnya yang masih dari cerita teman saya adalah Jumog. Air terjun cantik ini dikenal dengan nama The Lost Paradise of Java (Surganya Jawa yang Hilang). Tempat wisata ini terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Jaraknya sekitar 40 km sebelah timur Solo. Selain pemandangan hutan yang rindang dan suasana yang sejuk. Disana juga memiliki fasilitas yang tidak jauh berbeda dengan Grojogan Sewu. Jika Ingin merasakan dan menikmati malam dengan suasana sejuk dan suara gemericik air terjun, kita bisa menggunakan cottage dan home stay yang ada. Yang bikin saya tertarik untuk mengunjungi Jumog adalah keindahan pelangi di air terjunnya setiap pukul sepuluh pagi. Wah, pasti itu indah bangeeeet? Seindah saya *eh :D.



Taman Balekambang
            Setelah puas menikmati indahnya Air Terjun Grojogan Sewu dan Jumog.Tempat berikutnya yang ingin saya kunjungi adalah Taman Balekambang yang terletak di Jalan Balekambang No.1 Surakarta. Taman Balekambang adalah taman yang dibangun dengan menggunakan konsep Eropa dan Jawa oleh KGPPA Mangkunegara VII untuk kedua putrinya, yaitu GRay Partini dan Gray Partinah pada tanggal 26 Oktober 1921. Balekambang berasal dari gabungan kata bale’ (Balai) dan Kambang (Mengapung), karena dulu ada sebuah balai di atas telaga kecil. Taman yang memiliki luas 9,8 Ha ini berfungsi sebagai daerah resapan dan paru-paru kota. Selain itu juga diperuntukan sebagai public area seperti, Taman Seni dan Budaya, Taman Botaniu, Taman Edukasi dan Taman Rekreasi. Suasana teduh dan hijaunya pepohonan di perkotaan Solo, cocok buat piknik, santai, kumpul bareng teman dan keluarga atau sekedar foto-foto narsis bin eksis, hehehe. Mau di Kota atau di pegunungan, Solo di mata saya selalu seperti terlihat hijau.
           
Sekali Jalan Dua Tiga Tempat Terlewati
Jalan-jalan tapi belum belanja batik bagai sayur tanpa garam, teman hehe. Apalagi Solo terkenal dengan batiknya. Jadi menurut saya belum pas rasanya kalau belum belanja batik atau melihat proses pembuatan batik itu sendri. Kampung Batik Laweyan adalah salah satu tempatnya. Kampung Batik Laweyan adalah sentra Batik di Kota Solo dan sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546 M. Jadi sudah tidak heran Kampung Batik Laweyan sangat terkenal di masyarakat domestik dan mancanegara. Disini juga bisa belajar langsung cara membatik dari pembatiknya langsung.


             Kalau misalnya mau beli langsung batik yang sudah jadi seperti, kain batik dan pakaian batik. Ada  Beteng Trade Center (BTC) dan Pusat Grosir Solo (PGS), tempat yang cocok buat belanja batik atau oleh-oleh untuk orang-orang terkasih di rumah. BTC dan PGS adalah pusat batik terkenal di Kota dengan slogan BERSERI (Bersih, Sehat, Rapi dan Indah) ini. Letak mereka yang berdekatan membuat kita lebih mudah untuk berbelanja di kedua tempat tersebut. Kalau PGS terletak di Jalan Mayor Sunaryo nomor 1 Gladag, sedangkan BTC masih jalan yang sama dengan nomor 2. Dekat banget kan, teman?

Pusat Grosir Solo (PGS)
Beteng Trade Center (BTC)
            BTC sendiri dibuka dari pukul 09.00-16.00 WIB dan memiliki tiga lantai. Di lantai dasar, terdapat aneka kain, termasuk kain batik dari beberapa motif seperti, Solo, Jogja dan daerah lainnya. Di lantai 1, terdapat aneka tas, sandal dan sepatu. Dan di lantai 2, terdapat aneka pakaian batik. Mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Selain itu, di lantai ini juga terdapat handicraft dan aksessoris. Setelah puas belanja atau sekedar lihat-lihat di BTC, haluan berikutnya ke PGS. PGS mulai buka dari pukul 09.30-17.00 WIB dan lantainya lebih banyak dari BTC yaitu lantai basement, lantai dasar, lantai 1, lantai 2 dan lantai 3. Menurut saya kalau ke sini, selain  perlu persiapan isi dompet, sepertinya kita juga perlu persiapan kaki sekuat baja, hehe. Di lantai basement terdapat aneka pakaian batik, kaus, kerudung, jam tangan dan aksessoris. Di lantai dasar dan lantai 1 terdapat pakaian anak-anak, batik, toko emas dan food court. Di lantai 2 digunakan untuk pameran aneka pakian dan kerajinan. Dan di lantai 3 ada pakrir, food court, masjid dan sebagian untuk pameran.


            Habis jalan-jalan dan belanja pasti tenaga kita telah berkurang alias lapar. Urusan kampung tengah itu wajib hukumnya. Apalagi kalau berada di Solo. Mulai dari makanan hingga jajanan katanya enak-enak. Jadi, sayang banget kalau terlewatin. Di dekat PGS dan BTC ada tempat wisata kuliner yang oke dan mantap, namanya Galabo (Gladag Langen Bogan). Galabo terletak di sebelah timur bundaran Gladag, Jalan Mayor Sunaryo. Aktifitas kuliner disana baru akan terasa pada saat malam hari. Ketika siang hari daerah Galabo sebagai jalan raya. Disana kita bisa menemukan berbagai makanan dan minuman khas Solo tentunya. Nah, ngomong-ngomong tentang makanan. Makanan yang pengen saya coba itu, Nasi Liwet, Serabi Notosuman dan minumannya Es Potjong. Ya Allah, pasti itu enak banget. Di foto saja, mereka sudah terlihat mengundang nikmat. Apalagi di program-program wisata kuliner di berbagai stasiun televis, bikin mulut saya komat kamit. Gurih dan aromanya yang lezat dari nasi liwet yang dimasak dengan kaldu ayam. Lembut, legit dan wanginya pandan di Serabi Notosuman. Belum lagi, enaknya jenang sumsum yang disiram dengan manisnya dari syirup merah, ditambah segernya es serut, potongan mochi dan berbagai topping sesuai selera pada es potjong. Cuma bisa bikin saya geleng-geleng kepala melihatnya. Jadi, di siang hari kita dimanjakan dengan belanjaan di BTC dan PGS, pada malam harinya kita langsung di suguhi makanan dan minuman enak di Galabo. Mantap!


Si Tut Tut Tuut dan Si Merah

Kereta Uap Jaladara
Tempat wisata, sudah. Tempat belanja dan wisata kuliner juga sudah. Sudah selesai? Oh, tidak! Masih ada hal yang menarik dan unik di Solo dan jangan sampai ketinggalan. Apakah itu? Tara, Kereta Uap Jaladara, tut, tut, tuut. Tentu sensasi naik kereta uap berbeda dengan naik kereta api biasa. Sangat jarang bisa jalan-jalan menggunakan kereta uap yang melintasi jalan di perkotaan. Kereta uap ini dijalankan dengan lokomotif C1218 dan beroperasi di jalur kereta api Stasiun Purwosari hingga Sukoharjo. Kereta uap Jaladara hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional saja. Kereta yang awalnya dipakai pada masa pemerintahan Belanda ini telah menjadi kereta wisata dan menjadi ikon Kota Solo.

 
Bus Tingkat Werkudara
Setelah bernostalgia dengan Kereta Uap Jaladar. Berikutnya adalah merasakan transportasi ala luar negeri gitu. Bus tingkat Werkudara adalah bus yang menurut saya seperti bus-bus di London apalagi warnanya yang merah persis banget. Bus ini juga sama seperti kereta uap yang hanya beroperasi pada hari sabtu dan minggu. Bus ini memiliki ketinggian 4,5 meter dan lebar 2,5 meter. Dengan bis ini kita bisa berkeliling Solo. Bahkan bus yang mulai beroperasi sejak tahun 2011 ini juga melewati Kampung Batik Laweyan. Itulah pilihan transportasi wisata, mulai dari yang zaman Belanda hingga Zaman Moderen ada di Solo. Itulah transportasi unik di Solo yaitu, Si Tut Tut Tuut dan Si Merah, hehehe.

            Menurut apa yang saya baca dan rasakan, Solo adalah Kota yang memiliki alam yang terjaga dan kota yang tertata. Grojogan Sewu, Jumog dan Taman Balekambang hanyalah beberapa bukti dari hijaunya alam Solo. Batiknya yang indah dan kulinernya yang beragam. Bukan hanya sampai situ saja, saya masih dibuat terkagum-kagum dengan Solo. Kereta Uap Jaladara dan Bis Tingkat Werudara dengan mudahnya bisa menarik perhatian saya. Solo adalah sebuah keajaiban dan keindahan yang patut kita syukuri. Jadi pantas rasanya kalau Solo disebut dengan The Spirit of Java (Jiwanya Jawa).

0 comments:

Posting Komentar