Kamis, Maret 31, 2016

Skenario Menuju Kematian



"Oca, kamu ada di kosan gak ntar sore? Oka mau main sekalian copy film Replay 1988, hehe."
Saya kirim pesan whatsapp ke Oca dan tak lupa memberikan emoticon tertawa di akhir pesan.

Bisa dibilang saya sesekali suka nonton drama korea dan sering nonton acara variety show korea. Replay 1988 yang diperankan actor tampan Park Bo Gum dan Hye ri telah mencuri hati saya. Sayangnya hanya 10 episode yang baru saya tonton. Sisanya masih di Oca.


Oca dan saya memang kerap berbagi film korea dan Running Man (acara variety show korea). Kalau sudah cerita tentang Running Man, rasanya waktu berjalan cepat. Tingkah lucu tujuh member dan guest tak pernah habis dibicarakan. Belum lagi misi-misinya yang mengocok perut. Bahkan karena saking Korea Addict, kami suka menyelipkan beberapa kata dalam bahasa korea ketika berbicara. Ah, seru pokoknya.



Karena itu hari Kamis sore (24/03/2016) sepulang dari kegiatan di Kampus, saya berjalan menuju kosan Oca. Laptop dan flasdisk 8GB sudah tersimpan manis di dalam ransel. Siap menerima transfer film-film.


"Ah, nggak ada salahnya refreshing sebentar dengan nonton drama," saya membatin dalam hati.  Langkah kaki pun semakin saya percepat saat memasuki barisan kosan putih.

Namun ketika tiba di kosan Oca. Semuanya menjadi ekpektasi bahkan bayangan semu. Kali itu sikap Oca tak seperti biasanya. Ada sedikit rasa kecewa tapi hati hanya bisa bilang, “Ya sudahlah.” Kami tak banyak saling bicara di senja yang kala itu telah membentuk garis jingga di langit biru gelap.


"Oka, mianeyo (bahasa korea: maaf). Kalau aku kasi film berarti sama juga mengajak Oka ke perbuatan dosa."


"Kalau Running Man bolehkan, ca? Itukan variety show. Nggak ada adegan romantisnya," ucap saya menawar.

"Nggak boleh juga, ka. Banyak tertawa bisa membuat hati keras. Lupa dan lalai  dengan Allah. Mbak Uswah pernah bilang kita nggak pernah tau kapan kita akan mati? Nauzubillah min zalik, jangan sampai meninggal saat kita sedang menonton film."


‘Deg’ meninggal? Kata yang sering terdengar dan kerap kali maknanya saya abaikan. Rasa takut dan tak siap mungkin menjadi alasan mengapa sering terlupakan. Hal yang bisa jadi banyak orang pun alami juga rasakan.


"Maaf ya, ka." ucap Oca membuyarkan lamunan.


"Nggak apa-apa kok, ca. Santai aja. Terima kasih sudah diingatkan."


Jawab saya sembari tersenyum. Awalnya memang kecewa. Tapi ada rasa haru karena telah diingatkan dalam kebaikan dan kemungkaran. Ah, percakapan sore itu mengingatkan kembali perkataan Mbak Ii kala siang di kampus tadi.


"Keadaan manusia saat meninggal adalah tergantung perbuatan yang paling sering ia lakukakanKalau sering main HP, bisa jadi meninggal ketika main HP. Kalau sering mengaji, bisa jadi juga meninggalnya saat tengah mengaji."

Sepanjang perjalanan pulang dari kosan Oca, saya terus kepikiran akan kematian. Suatu hal yang tak satupun manusia bisa menundanya dan mempercepatnya. Karena setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke Maha Pencipta.


Saya pernah mendengar bahwa kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara. Jika begitu berarti kitalah pemainnyaApabila kehidupan adalah awal cerita, maka kematian adalah akhir 
cerita. Karena setiap cerita tentu memiliki ending. Hanya tinggal pilih, apakah ingin sad ending atau happy ending?

Skenario menuju kematian seperti apa yang telah saya persiapkan di panggung sandiwara ini. Rasanya diri hanya sibuk dengan dunia. Ingin melakukan dan mendapatkan banyak hal Sedangkan ibadah masih belum pasti sempurna diterima.

Siapa yang bisa tahan saat nyawa mulai ditarik dari ujung kaki yang rasa sakitnya diibaratkan sama seperti ditusuk tiga ratus pedang. Lantas bekal apa yang sudah saya persiapkan menuju akhirat? Siapkah menghadapi kematian yang entah kapan waktunya?


Andaikan delapan hari lagi kematian tiba di depan mata, rasanya tentu kita ingin lari dari kenyataan bahwa akan meninggalkan orang-orqng tersayang. Saya sendiri masih memiliki banyak mimpi, belum membalas kebaikan orang tua, membanggakan mereka, belum menikah, belum lulus S1 dan banyak hal yang tak akan pernah habis diselesaikan. Tapi seperti yang diketahui tak ada satu orang pun bisa melawan ketetapan-Nya. Kehidupan dunia hanya sementara dan hanya persinggahan menuju akhirat yang kekal.


Memperbanyak taubat, melakukan amal jariyah, melunaskan hutang dan berkumpul bersama keluarga adalah empat hal yang akan saya lakukakan dalam skenario menuju kematian.


Selain memohon ampunan dari shalat taubat, maka melakukakn amalan yang terus mengalir menjadi hal yang ingin saya lakukan selanjutnya. Seperti ilmu yang bermanfaat dan harta yang disedekahkan. Yang ketiga adalah melunaskan hutang karena saya pernah dengar bahwa hutang akan dibawa mati dan menjadi penghalang diri saat di akhirat nanti. Lalu terakhir berkumpul bersama keluarga. Karena merekalah semangat dan energi saya.

Rasulullah SAW berkata dalam hadits riwayat Thabarani dan Al Hakim, "Al mautu tuhfatul mukmin," artinya kematian adalah hadiah bagi orang beriman. Percaya kematian pun termasuk percaya akan hari akhir. Dimana hal ini merupakan kewajiban seluruh mukmin.

"Oka, mana lanjutan drama Replay?" Tanya teman satu kosan sewaktu saya tiba di kosaan.


"Oca nggak mau kasi. Dia bilang nggak mau menjerumuskan kita ke perbuatan dosa. Tapi Oca ada kasi video nih. Video Nouman Khan sama Dr. Zakir Night, hehe. Katanya sih bagus."

"Iih so sweet," respon teman-teman kosan saya tak menggambarkan raut kekecewaan.


Ah, bagaimana ini. Bisakah saya menahan diri untuk tidak nonton drama korea lagi? Semoga kita semua dalam lindungan Allah dan terus menuju proses kebaikan.


“Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway”

6 komentar:

  1. Temannya baik banget ya, Mbak. Berani menentang kawan untuk kebaikan bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya fah. kan jarang banget yang tegas begini. biasanya kan suka gak enakan kalau negur atau ngelarang

      Hapus
  2. ikut tertohok sma pesan yg disampaikan :( Terimakasih tulisannya Okaa, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. semoga doa yang baik ini kembali ke mbak desi juga :)

      Hapus
  3. Salam kenal kak Oka, semoga kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan ya.. :)

    BalasHapus