Minggu, September 17, 2017

TRADISI MAKAN SAPRAHAN: Keindahan Budaya di Kabupaten Sambas


TRADISI MAKAN SAPRAHAN: Keindahan Budaya di Kabupaten Sambas


Assalamualaikum. Hello semuanya.

Kamu mungkin sudah sering dengar dan baca bahwa Indonesia memiliki 17.504 pulau dan 1.340 suku. Kekayaan alam dan budaya negeri pertiwi inilah yang menjadikan Indonesia dikenal dunia, memiliki banyak potongan ‘surga’ yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Panorama alam Indonesia yang menawan juga indah menjadi salah satu alasan banyaknya traveller mancanegara berbondong-bondong terbang ke Indonesia. Bahkan masyarakat Indonesia, termasuk saya, mengukir mimpi dapat mengelilingi berbagai daerah di negeri tercinta.

Sambas


Daerah paling utara dari wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan memiliki luas daerah 6.395,70 km2.

Peta dari Pontianak menuju Sambas
Namun di blog post kali ini Bee tidak ingin ‘meracuni’ kamu dengan pesona alamnya di sana. Melainkan sesuatu yang tak hanya bisa dilihat tapi juga dirasa. Karena berbicara tentang keindahan Indonesia bukan hanya tentang birunya laut, tingginya gunung ataupun objek wisata lainnya yang menawan.

Masih ada keberagaman tradisi budaya yang menjadikan Indonesia menarik untuk dieksplorasi. Dimana ‘surga’ Indonesia tak hanya dapat kamu jumpai di pinggir pantai ataupun di atas awan. Melainkan juga di sudut pedesaan atau pekampungan.

Salah satu dari tradisi budaya Indonesia yang ingin Bee kenalkan adalah Tradisi Makan Saprahan di Kabupaten Sambas. Tradisi ini tak hanya sekedar berkumpul dan makan bersama loh. Ada nilai-nilai budaya dan filosofi yang menarik untuk ditelusuri. Namun karena masih sedikitnya yang mengenal tradisi ini, maka Bee sangat bersemangat untuk menceritakannya disini.

Tradisi Makan Saprahan di Kabupaten Sambas


Tradisi Makan Saprahan ini biasanya dilaksanakan pada bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, acara syukuran, acara pernikahan dan lainnya. Tradisi adat Melayu ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat berbudaya Melayu mulai dari Sambas, Mempawah dan Pontianak. 

Kalau sahabat traveller sendiri, apakah sebelumnya sudah pernah mendengar tradisi ini?

Berbeda dengan makan prasmanan yang biasanya kita jumpai. Tradisi makan Saprahan ini menjunjung tinggi semangat kekeluargaan atau gotong royong juga keramah-tamahan. Mulai dari proses persiapan hingga selesai acara, semua dilakukan secara tolong-menolong antar warga.

Sedangkan ketika Tradisi Makan Saprahan dimulai semua warga akan berkumpul dan membuat lingkaran kecil yang mengelilingi baki besar berbentuk bulat berisi lauk-pauk. Tanpa memandang latar belakang, umur dan status sosial, semuanya duduk bersama di lantai untuk makan.

Dalam satu lingkaran diisi oleh 6 orang dan disajikan 5 menu makanan, kuliner khas Melayu. Biasanya ada ayam masak kecap, ayam masak puteh (opor), sayur pacri nanas, acar telur dan sambal kacang merah. Sedangkan minumannya ialah air serbat. Tapi berkembangnya zaman, sekarang sudah banyak yang memilih praktis yaitu menggantinya dengan air kemasan gelas.

Tradisi Makan Saprahan ini menggunakan tangan alias nggak pake sendok, garpu apalagi pisau makan, hehe. Sedangkan untuk mengambil lauk-pauk ada disediakan sendok. Tapi berdasarkan pengalaman Bee nih ya, kalau ambil lauk seperti ayam, biasanya kami mengambil menggunakan tangan langsung. 

Pernah nih sewaktu kecil dan ikut makan Saprahan, tanpa basa-basi Bee langsung ambil sepiring ayam kecap dari sajian. Padahal seharusnya ambil sedikit-sedikit alias dicubit-cubit, hehe. Jadi perlu diingat ya sahabat traveller, lauk-pauk yang disajikan bukan untuk satu orang melainkan enam orang.

Bee dan keluarga lagi makan saprahan
Saprahan Acara Sya'ban di rumah Pak Long (paman) Sambas

Etika Besurrung dan Tugas Pesurrung


Tak hanya proses makan, proses penyajian Tradisi Makan Saprahan pun memiliki etika. Dalam proses penyajian atau lebih dikenal masyarakat dengan nama besurrung, dilakukan oleh 5 orang.

Orang yang pertama membawa air cuci tangan berserta lap tangan, lalu disusul orang kedua membawa nasi. Kemudian orang ketiga bertugas membawa baki lauk-pauk. Sedangkan orang keempat membawa piring. Terakhir membawa baki kecil berisi gelas dan air minum.

Bee sendiri yang tinggal dan besar di Kota Pontianak, punya pengalaman tiba-tiba disuruh untuk terlibat sebagai pesurrung  (orang yang melakukan besurrung) sewaktu ada acara Sya’ban di Sambas.

‘Doeng’ beberapa detik, bengong menatap piring kosong dan lauk-pauk. Sebab saat itu Bee nggak tau aturannya dan mengira sama saja dengan menyajikan makanan pada umumnya. Bee ambil saja baki berisi minuman dan meletakkannya di kelompok Saprahan yang masih kosong belum ada baki lauk-pauknya. Jelas Mama yang melihat tersebut langsung menegur. Untung saja bibi-bibi saya harap maklum *ngelus dada.

Baki lauk-pauk siap diantar
Ah, ayam masak puteh nya menggoda~

Nilai-nilai Budaya dan Filosofi Tradisi Makan Saprahan


Tradisi adat melayu Sambas ini memang sangat identik dengan agama Islam, sehingga angka 6 pada jumlah orang di setiap kelompok Saprahan melambangkan Rukun Iman. Sedangkan angka 5 pada jumlah lauk-pauk yang disajikan bermakna Rukun Islam.

Dari Tradisi Makan Saprahan inilah kita bisa melihat budaya Indonesia yang sejak dari dulu tertanam, yaitu budaya gotong-royong. Semua orang berkerjasama dengan penuh rasa kekeluargaan. Mulai dari proses memasak, mencuci hingga menghidangkan.

Selain itu tanpa membandingkan status sosial, agama, suku juga umur, semuanya duduk bersama di lantai, menikmati sajian makanan yang sama. Saling berbagi cerita, melempar senyuman, menjalin keakraban dalam kesederhanaan. Suatu pemandangan yang tentu begitu indah dan damai, bukan?

Cekrek dulu bagian dapur yang masak
Tertarik berkunjung ke Sambas dan merasakan langsung Tradisi Makan Saprahan?

Datanglah kemari. Maka Bee dengan senang hati akan ajak kamu ke kondangan. Kok kondangan? Ya itu karena Tradisi Makan Saprahan biasanya sering ada di acara pernikahan, selain itu orang nikahan setiap bulan pasti ada kan ya?! Hehe.

Akses munuju Sambas sangatlah mudah. Jalannya sudah aspal mulus. Jika kamu dari luar daerah Kalimantan Barat, bisa menggunakan pesawat menuju Bandara Supadio Pontianak dengan memesan tiket pesawat di tiket.com. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan rental mobil ataupun bus Damri. 

Perjalanan dari Kota Pontianak ke Sambas memakan waktu yang lumayan lama, yaitu kurang lebih sekitar 5 jam. Tak perlu khwatir untuk urusan penginapan, di Kota Sambas terdapat beberapa penginapan yang bisa kamu datangi juga pesan.

Siapa yang sangka ‘Surga’ tersembunyi Indonesia juga bisa ditemui dari sebuah baki besar berbentuk bulat, yang menghidapkan sajian makanan rasa kekeluargaan dan dinikmati bersama dengan kesederhanaan.

Kini saya kira kita semua setuju bahwa Tradisi Makan Saprahan merupakan salah satu potongan ‘surga’ tersembunyi di Indonesia. Warisan budaya leluhur yang semestisnya perlu dilestarikan juga dijaga. Sebab jika Tradisi Makan Saprahan terlupakan, maka semangat budaya gotong-royong pun perlahan akan menghilang

Semoga tulisan TRADISI MAKAN SAPRAHAN: Keindahan Budaya di Kabupaten Sambas bermanfaat dan menambah wawasan kamu terkait kekayaan budaya di Indonesia. Terus bersyukur dan tebar kebaikan. Salam.

5 komentar:

  1. Aamiin aamiin, smoga Indonesia smakin menjaga budaya dan berbudaya ke depannya.aamiin

    BalasHapus
  2. Dimana-mana ada yaa tradisi makan bersama. Saprahan seru juga yaa.

    BalasHapus
  3. "Datanglah kemari. Maka Bee dengan senang hati akan ajak kamu ke kondangan. Kok kondangan?" Waaah bener ya Mbak Bee? heheh

    BalasHapus
  4. Perlu dilestarikan karna budaya yang baik mengandung unggah ungguh yang baik pula. tidak sembarangan makan, layaknya table miner gitu.

    BalasHapus