Skip to main content

Perjalanan Hemat Sekeluarga Ala Backpacker ke Kuching, Malaysia

Perjalanan Hemat sekeluarga ala backpacker ke Kuching, Malaysia

Assalamualaikum, halo semuanya!

Menjelang lebaran Idul Fitri 2019 lalu, Bee mendapatkan tugas oleh kantor ke Kuching, Malaysia. Setelah beres urusan kerjaan, Bee ambil cuti dan berencana untuk menikmati bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi dengan melakukan perjalanan ala backpacker mulai dari Sarawak - Miri - Brunei Darussalam bersama keluarga, dan dilanjutkan backpacker-an dengan teman ke Kota Kinabalu.

Hari Pertama: Kehujanan Waktu Buka Puasa di Waterfront

Saya dan keluarga memutuskan untuk mulai jalan ke Waterfront menjelang sore hari, sekalian cari makanan untuk berbuka puasa. Kebetulan di perjalanan menuju Waterfront melewati patung kucing yang menjadi ikon-nya Sarawak. Saat asyik mengabadikan momen tiba-tiba awan hitam menutupi langit, rintik-rintik hujan mulai turun. Kami bergegas berteduh di halte bus. Beberapa menit kemudian hujan sedikit reda, kami percepat langkah kaki menuju Waterfront yang sungainya sudah terlihat dari kejauhan. Lagi-lagi di tengah perjalanan, hujan lebat datang, bagai air yang ditumpahkan dari langit, kami dan pejalan kaki lainnya langsung ambil langkah seribu menuju gazebo. Akhirnya kami malah terjebak di gazebo hingga waktu berbuka puasa. Syukurlah Ayah dan Mama membawa bekal roti dan minuman untuk membatalkan puasa.

Wisata kuliner di waterfront kuching, sarawak, malaysia
Bikin ngiler lagi ngeliat fotonya

Setelah hujan sedikit reda, kami memutuskan makan malam di tempat makan yang berjualan di tepian Waterfront. Masya Allah, beh, banyak seafoods yang siap memanjakan perut. Kami beli paketan yang isinya berbagai macam kerang mulai dari kerang bambu, kepah, buluh, dan udang.

Selesai makan kami lanjut explore sepanjang Waterfront. Terakhir saya ke Kuching tahun 2004 dan Waterfront belum secantik sekarang. Saya sangat ter-wow, wow dengan perkembangan objek wisata disana. Ada banyak lampu warna-warni, terus lampu di jembatannya bisa beubah-ubah warna gitu, ada juga masjid megah di tepian sungai.

Meskipun hari pertama perjalanan kami di Kuching basah kuyup, kami semua tetap have fun dan jepret sana-sani. 

Waterfront Kuching di malam hari yang semakin menawan
Kuching Waterfront di malam hari

Hari Kedua: Gagal Ajak Adek Main di Kuching Cat Museum

Keesokan pagi kami berencana main ke Kuching Cat Museum. Sebelum pergi saya cek google maps memastikan jam bukanya, yaitu jam 9 pagi. Kami berangkat deh tuh jam 9 kurang dari hotel menggunakan taksi online. 

Sesampai disana, beberapa mobil terlihat putar balik, mulai deh muncul firasat tutup. Tuh kan benaran tutup karena sedang ada perbaikan, huaaa. Sedih banget enggak jadi kasi lihat Cat Museum ke adek.

"Semoga di lain kesempatan kita bisa main kesini ya, dek."

Hikmahnya jangan 100% langsung percaya dengan informasi di google, tulisan open belum tentu beneran open. Kalau ada kontak nomor tempat yang dituju dan bisa dihubungi, mending dihubungi saja dulu.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke objek wisata selanjutnya, Orangutan Murals dan India Street. Setelah berfoto-foto ria dengan lukisan-lukisan mural, kami window shoping melihat suasana dan barang-barang yang dijual di India Street.

Indian Street di Sarawak, Kuching, Malaysia
Jejeran warna-warni baju melayu
Hunting foto di Orangutan Murals di Kuching, Sarawak, Malaysia
Adek yang semangat banget foto dengan mural orangutan

Saat matahari lagi tinggi-tingginya, kami pulang dengan jalan kaki ke hotel. Berdasarkan arahan google maps, kami tinggal jalan kaki lurus saja menyusuri Waterfront.

"21 menit doang mah dekat, bentar," ucap Bee yakin.

Tapi satu hal yang saya lupakan, 21 menit terasa jauh saat puasa apalagi di siang bolong begini, haha. Mungkin ada lima kali kami berhenti buat istirahat dan tarik napas. Alhamdulillah, adek yang paling kecil enggak mengeluh bilang, “capek, capek, capek!” dan puasanya aman. Tapi kalau lihat wajahnya, jelas banget dia kecapekan.

18 Jam Perjalanan Ke Miri Pakai Bus

Masih di hari yang sama, pada sore harinya kami meluncur ke Kuching Central Bus untuk melanjutkan perjalanan ke Miri menggunakan Bus Bintang Jaya Express. Perjalanan kami jauh lebih lama dari waktu yang diperkirakan di website.

Saya pun bertanya ke Mbak Etty (teman perjalanan Bee nanti di Kota Kinabalu yang juga sedang solo backapacking ke Miri dan Brunei Darussalam), apakah dia juga mengalami hal yang serupa? Karena dia sudah berangkat duluan menggunakan Bus Eva ke Miri. Ternyata waktu kedatangan Mbak Etty di Miri tepat waktu tuh.

Perjalanan ke Miri menggunakan bus dari Kuching
Bus yang akan membawa kami ke Miri
Naik Bus ke Miri dari Kuching
Tiket Bus ke Miri

Seharusnya 15 jam lama perjalanan, malah 18 jam duduk di kursi, enggak bisa lurusin pinggang dan kaki. Bayangan kasur hostel sudah di ubun-ubun. Bee rasa keterlambatan waktu tiba ini karena bus yang ditumpangi sering menaik-turunkan penumpang di tengah jalan. Saat saya tanya ke Mbak Etty, bus yang dia tumpangi tidak ada tuh menaik-turunkan penumpang di tengah jalan. Ya sudahlah namanya juga transportasi umum, jadi buat kalian yang nanti naik bus tujuan Kuching – Miri jangan kaget ya kalau ternyata bus kalian banyak berhenti.

Cerita selanjutnya adalah kegalauan saya dan keluarga yang bingung tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri di Brunei Darussalam. Karena kami harus menentuin kapan akan masuk ke Brunei Darussalam, mengingat biaya hidup disana lebih mahal dan waktu open house Sulatan Brunei Darussalam di hari ke-2, ke-3 dan ke-4.  Sambil menunggu akhirnya kami stay di Miri. 


Biaya perjalanan hemat ala backpacker dari Pontianak ke Kuching selama dua hari satu malam
Rincian biaya perjalanan selama di Kuching

Sekian cerita perjalanan Bee yang sedikit drama mulai dari kehujanan, tempat wisata yang tutup, hingga pertama kali berjam-jam di dalam bus. Sampai jumpa di tulisan Bee selanjutnya. Terus bersyukur, dan tebar kebaikan. Salam!

Comments

  1. Wah seru mbak pengalamannya. Saya pengin juga jalan2 ke Malaysia dan Brunei yang di Kalimantan. Satu daratan sih jadi penasaran bagaimana kehidupan di sana :-)

    ReplyDelete
  2. 20 menit jalan kaki pas puasa lumayan jugaa yaa. Hehehe.. apalagi pas siang bolong 😅

    ReplyDelete
  3. Suasananya pas bulan ramadhan, wahh kebayang hunting kuliner untuk berbuka disana 🤤

    ReplyDelete
  4. informasi dari Google emang kadang susah dipercaya, apalagi biasanya ada tempat-tempat yang tidak menyediakan info apakah tempatnya sudah closed permanen atau pindah. biasanya emang lebih valid tuh ngehubungin nomor telfon tempat itu.

    ReplyDelete
  5. Jalan kaki 21 menit ya jauh dong itu 😂

    Seneng liat infografisnya. Baru tahu kalau ada Damri yang ke Kuching dari Pontianak

    ReplyDelete
  6. Cerita perjalanannya seru, Bee! Aku encourage travel blogger yang lain juga backpacking ke luar negeri kayak gini, hehe. Baru tau lho di Kuching ada seni mural jalanan juga.

    Perjalanan Brunei - Sabah- Sarawak ini sempat jadi rencana perjalanan impian di tahun 2016 namun sayangnya batal terlaksana, huhu.

    ReplyDelete
  7. Itu menu seafoodnya bener-bener menggugah selera, deh. Saya jadi pengen cari makanan seafood gara-gara lihat ini :D

    ReplyDelete
  8. Dari Pontianak bisa naik bus ya ke Kuching, impianku main ke Kalimantan, seru pisan kalau bisa menyeberang ke Kuching juga..sayang cat museumnya sedang tutup ya

    ReplyDelete
  9. Hahaha,, justru drama-drama perjalanan itu yg bikin perjalanan lebih berkesan kannn.

    Btw, di orang utan mural ada banyak mural-mural orang utan ya?

    ReplyDelete
  10. 18 jam naik bus dan duduk diam dengan punggung sedikit tegak adalah bagian yang paling nggak sanggup saya bayangkan. Pegalnya bikin inginnnya tidur seharian saja di hostel sebelum jalan jalan lagi keliling kota.

    ReplyDelete
  11. Wah, pengen banget ke Kuching tapi belum kesampaian. Banyak tempat menarik ya di sana, terutama Cat Museumnya yang bikin penasaran. Btw, itu foto seafoodnya beneran bikin ngilerrrr...

    ReplyDelete
  12. Wahhh boleh nih dijadikan referensi.
    Tahun ini kami ada rencana buat backpackeran keliling Malaysia. Haha


    Salam hangat dari kami Ibadah Mimpi

    ReplyDelete
  13. Wah ternyata dari Pontianak ke Kunching ada Damri ya. Baru tahu. Duh murah pula ya cuma 200 ribuan. Jadi pengen nyonya overland gitu.

    ReplyDelete
  14. Menarik banget liburan ke Kuching nya yah,aku padahal sudah sampe Pontianak saat itu tapi mau lanjut ke Kuching nya gak keburu. Disana harga lebih murah dari kota lain di Malaysia kah mbak?

    ReplyDelete
  15. baca ceritanya jadi pengen nyobain backpakeran kesana bareng suami, ah semoga situasi ini segera berlalu ya kak jadi bisa aman main Malaysia lagi.

    ReplyDelete
  16. astagaaa aku ngiler banget liat makanannya, belum pernah ke Malaysia. semoga suatu saat nanti bisa berkunjung ya :D

    ReplyDelete
  17. astagaaa aku ngiler banget liat makanannya, belum pernah ke Malaysia. semoga suatu saat nanti bisa berkunjung ya :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sayuran Khas Indonesia: Enaknya Tebu Telur

Sayuran Khas Indonesia: Enaknya Tebu Telur Pernahkah anda  mencicipi sayur Bunga Tebu? Bagaimana rasanya? Enak bukan? Atau jangan-jangan belum pernah mencobanya? Atau tidak tau bahwa tanaman yang mirip tebu ini memiliki bunga yang dapat dimakan? Bunga Tebu atau biasa disebut Tebu Telur adalah termasuk jenis sayur-sayuran. Dalam bahasa latin namanya adalah Saccharum edule Hasskarl . Kalau di Jawa, Tebu Telur bernama Tiwu Endog atau Terubus . Sedangkan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan Tebu Endog atau Tebu Terubuk . Alasan kenapa bunga tebu ini disebut Tebu Telur karena teksturnya mirip dengan telur ikan. Awalnya ketika Mama menawarkan Tebu Telur , dibayangan saya bentuknya bulat-bulat putih, lembek seperti ulat. Saya diam saja ketika tau Mama berhasil memborong banyak Tebu Telur di pasar Sanggau untuk dibawa pulang ke Pontianak sebagai menu masakan di rumah dan oleh-oleh ke tetangga.

4 Hal Kenapa Lebih Baik Kuliah di STEI SEBI

Selama liburan, banyak yang bertanya-tanya ke saya, "kuliah di kampus mana?" Saya jawab, “STEI SEBI di Depok.” Tapi rasa ingin tau mereka biasanya tidak cukup sampai disitu. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Depoknya dimana? Itu kampus apa? Ada berapa fakultas? Semester berapa? Jurusan apa? Kenapa kuliah disana?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan terkait kampus tercinta saya. Tapi tidak saya pungkiri banyak yang ujung-ujungnya malah menjurus pada pertanyaan, “Kapan nikahnya?” atau “Cowoknya siapa?” *tepok jidat*. Baiklah kali ini saya bukan mau curhat karena ditodong seputar pertanyaan “mana cowoknya?”. Tapi saya ingin bercerita seputar kampus saya. Alasanya sih simpel, agar semua orang kenal kampus STEI SEBI Depok. Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Depok. Terletak di Jalan Raya Bojongsari, Gang Mungkin Bojongsari Depok. Terdapat dua jurusan, yaitu Akuntansi Syariah dan Perbankan Syariah. Berikut 4 Hal Kenapa Lebih Baik Kuliah di STEI SEBI. Sebenarnya