Langsung ke konten utama

3 Tips Sustainable Fashion Dalam Kehidupan Sehari-hari Bersama Asia Pacific Rayon (APR)

Manusia tidak akan sehat, tanpa alam yang sehat, dan begitu juga sebaliknya.

Assalamu'alaikum. Hallo semuanya! Ini adalah kutipan dari Bu Kinari Webb, pendiri organisasi nirlaba Bernama ASRI, tempat Bee bekerja. Kata-katanya sangat membekas dan nyambung ya dengan kita. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia sangat membutuhkan Bumi yang sehat untuk dapat hidup sehat. Namun kita sering lupa untuk merawat ‘rumah’ kita ini, ygy? Contohnya saja apabila ada kebakaran hutan atau meningkatnya polusi udara maka akibatnya manusia berisiko terkena penyakit pernapasan.

Untuk mengurangi dampak dari krisis iklim maka diperlukan aksi nyata dalam menjaga Bumi dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau sustainable living. Langkah yang paling mudah, seperti hemat energi, menggunakan transportasi umum, mengurangi penggunaan plastik, dan melakukan daur ulang kertas secara kreatif atau disebut juga paper upcycling.

Oh iya, ternyata apa yang kita pakai pun bisa mempengaruhi lingkungan loh? Pakaian-pakaian yang diproduksi oleh industri fast fashion atau fesyen cepat memiliki dampak buruk buat lingkungan dan sosial karena bahan baku dan pewarna tekstil yang banyak digunakan memiliki zat kimia berbahaya yang dapat mencemari air, menurunkan kualitas tanah, dan berbagai masalah lingkungan lainnya.

Ciri-ciri produk yang diproduksi oleh industri fesyen cepat:

  1. Memproduksi pakaian dengan berbagai model dan selalu mengikuti tren fesyen terbaru yang silih berganti dalam waktu cepat dan jumlah yang banyak.
  2. Bahan baku yang digunakan tidak berkualitas (murah) sehingga tidak tahan lama.
  3. Produk fesyen diproduksi di negara-negara berkembang, dimana pekerja bekerja di lingkungan kerja tidak sehat, digaji jauh dari jumlah layak tanpa ada jaminan keselamatan kerja

Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar pakaian yang kita pakai tidak berdampak buruk buat lingkungan, yaitu menerapkan sustainable fashion. Untuk lebih mudahnya, sustainable fashion memiliki prinsip yaitu meminimalkan dampak lingkungan mulai dari produksi, penggunaan, dan pembuangan produk, serta meningkatkan kesetaraan sosial dan keadilan ekonomi. Berikut tips sustainable fashion dalam kehidupan sehari-hari yang diberikan oleh Asia Pacific Rayon (APR), produsen rayon viskosa terbesar se-Asia, di kanal media sosialnya. 

Tips Sustainable Fashion Versi Asia Pacific Rayon (APR)

1. Mix And Match Pakaian

Kamu tidak perlu mengubah seluruh isi lemarimu dengan membeli pakaian-pakaian baru agar dapat melakukan mix and match. Mari kita buka dan cek lemari pakaian, adakah pakaian yang kamu beli satu tahun lalu atau lebih? Atau punya pakaian lungsuran dari orangtua atau temanmu? Jangan minder memakai pakaian lama karena kamu bisa ‘sulap’ menjadi outfit yang menarik dan modis dengan cara menyelaraskan warna pakaian dan aksesorismu.  Manfaat dari melakukan mix and match ialah kita dapat mengurangi konsumsi pakaian baru, serta belajar lebih bijak dalam menghargai barang yang sudah dimiliki yang berdampak pada penghematan sumber daya alam dan pengurangan limbah tekstil.

2. Baca Label Material

Jujur saja Bee jarang banget baca label material. Saat belanja online Bee paling hanya baca deskripsi pakaian yang bertuliskan seperti ringan dipakai, tidak terawang, tebal, atau semacamnya. Jadi bisa dibilang Bee enggak tahu nama-nama bahan pakaian selain katun. Kamu juga gitu gak? Ternyata ada loh bahan pakaian yang perlu kita hindari, seperti poliester yang biasanya terbuat dari minyak bumi dan tidak dapat terurai secara alami. Selain itu, poliester merupakan kain berbahan plastik yang dapat melepaskan mikroplastik apabila dicuci sehingga dapat mencemari lingkungan.

3. Gunakan Material Pakaian Ramah Lingkungan

Setelah kita sudah lebih sadar untuk membaca label material, tahapan selanjutnya adalah menggunakan material pakaian yang ramah lingkungan. Setelah Bee baca-baca di Internet, rupanya ada banyak bahan pakaian yang ramah lingkungan, seperti linen, hemp, tencel, katun organik, wol, serat bambu, serat kedelai, kapas organik, dan kain daur ulang. Pilihan material lainnya adalah rayon viskosa yang terbuat dari 100% selulosa kayu yang merupakan jenis bahan yang mudah terurai secara alami di tanah. Dari kayu jadi kain? Tak bahaya kah? Nah simak dan baca cerita Bee selanjutnya sampai selesai ya.

Proses pembuatan kain rayon viskosa mulai dari kayu


Perusahaan yang memproduksi serat rayon viskosa di Indonesia salah satunya adalah Asia Pacific Rayon (APR) yang merupakan satu di antara grup bisnis Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikan oleh Sukanto Tanoto pada tahun 1973. Ada juga grup bisnis RGE lainnya bernama Sateri sebagai produsen rayon viskosa yang berlokasi di Shanghai, sedangkan APR beroperasi di Pangkalan Kerinci, Riau, Indonesia. Melalui websitenya, APR memastikan bahwa rayon viskosa dikelola secara berkelanjutan dibuktikan dengan diperolehnya sertifikasi PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification) dan sertifikat internasional setara lainnya. Lalu sumber seratnya berasal dari hutan tanaman industri terbarukan yang dijalankan oleh Asia Pacific Resources International Limited (APRIL). Jenis-jenis pohon yang ditanam terdiri dari Akasia dan Eukaliptus yang dapat dipanen secara legal dalam waktu lima tahun. Selain itu, APR juga mengadopsi prinsip tidak adanya deforestasi dan tidak adanya pengmbangan baru di lahan gambut dalam mengelola hutan tanaman industri APR yang berkelanjutan.

Tampilan sustainabilty dashbord APR di website resminya


Sebagai konsumen kita dapat melacak asal muasal bahan baku di situs resmi APR bernama “Follow Our Fiber”, kemudian kita memiliki kemudahan memantau laporan keberlanjutan atau sustainability APR yang ditampilkan secara transparansi, seperti data penggunaan air bersih, penurunan gas emisi, penggunaan energi, hingga pemulihan karbon disulfide.

APR tak hanya berfokus pada lingkungan, namun juga berusaha memberikan dampak pada masyarakat dengan cara berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan pendidikan. Informasi lebih lengkapnya, kita dapat mengakses laporan sustainability atau keberlanjutan APR yang berisikan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosialnya di website mereka.

Sudah ada banyak brand fesyen lokal Indonesia yang berkolaborasi dengan APR, seperti BT Batik Trusmi, Kala Studio, Imaji Studio, Inen Signature, Frederika, everyday, mydailyhijab, Geulis, Salt n Pepper, Hurrem by Fia dan Mukena Arrumaisha. Untuk informasi terkini mengenai produk fesyen dan kolaborasi APR bisa kita peroleh di Instagram APR @asiapacificrayon.

Keunggulan rayon viskosa sendiri sudah tidak diragukan lagi. Selain mudah terurai secara alami karena 100% terbuat dari serat kayu, kain rayon viskosa lembut dan mudah menyerap keringat seperti katun serta sehalus sutra, sehingga saat dikenakan terasa nyaman. Kemudian kain rayon viskosa mudah untuk diwarnai, ditenun atau dirajut untuk dijadikan pakaian dalam, pakaian bayi, rok, kemeja dan gaun yang terasa lembut di kulit. Bahkan untuk seprai, handuk, taplak meja, serbet, hingga gorden juga sangat cocok menggunakan kain rayon viskosa.

Keunggulan rayon viskosa

Menurutmu apa lagi nih aksi lainnya dalam menerapkan sustainable living dalam berbusana? Semoga kita semua bisa lebih bijak dan bertanggung jawab dalam memilih busana yang ramah lingkungan, sehingga Bumi, ‘rumah’ kita, dapat terus lestari. Sampai jumpa di tulisan Bee selanjutnya. Terus bersyukur, dan tebar kebaikan. Salam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Hal yang Saya Rindukan Dari Kota Pontianak Sebagai Anak Rantau

7 Hal yang Saya Rindukan Dari Kota Pontianak Sebagai Anak Rantau adalah tulisan nostalgia sembari curhat untuk sedikit mengobati rindu saya dengan tanah kelahiran. Semoga juga mewakili suara buda’-buda’ (baca: teman-teman) Pontianak yang bernasib sama, hehe. Biasanya setiap liburan semester saya pulang ke kampung halaman. Tapi liburan semester lalu, pertama kalinya memutuskan untuk tidak pulang. Kenapa? Karena banyak yang harus dikerjakan *sok sibuk” XD. Sebenarnya banyak hal yang saya rindukan dari Kota Pontianak. Berhubung nggak mau panjang-panjang, maka saya buat tujuh poin saja. Sisanya silahkan teman-teman yang tambahkan sendiri di kolom komentar. Atau kalian pernah berkunjung ke Pontianak? Boleh juga nih di share hal apa saja yang dirindukan dari kota bermaskot Enggang Gading ini. Kalau saya sih ….

Berburu Sunset di Pulau Lemukutan

Assalamu'alaikum, halo semuanya! Kalian pernah enggak sih waktu jalan-jalan melakukan hal nekat? Soalnya Bee baru saja melakukan aksi nekat sewaktu traveling  ke Pulau Lemukutan, hehe. Untuk kedua kalinya Bee main ke Pulau Lemukutan, dan di kesempatan ini Bee 'nyempil' di acara Mama, rombongan ibu-ibu. Selama Mama sibuk dengan kegiatannya, Bee main sendiri di sekitar penginapan. Nah menjelang sore, saat bingung mau ngapaian, tiba-tiba 'ting tong' ide muncul di kepala. "Ah, nonton sunset aja kali ya?" batin Bee. Beberapa menit jalan kaki menyusuri deretan rumah, Bee enggak melihat tanda-tanda lokasi buat nonton sunset . "Ya Allah, pintar banget," ucap Bee sendiri sambil tepok jidat, "harusnya cek peta, biar ketauan lokasi dan mataharinya." Btw , sinyal di Pulau Lemukutan yang ada cuma kartu Telkomsel dan IM3 ya. Pas cek google maps , Bee auto kaget. Bagaimana enggak kaget, lokasi matahari terbenam adanya d...

Indahnya Pulau Seribu Bagan (Pulau Kabung) di Kalimantan Barat

Indahnya Pulau Seribu Bagan (Pulau Kabung) di Kalimantan Barat .  Hari Sabtu (22/08/2015) jam lima pagi, saya dan Mama berangkat dari Pontianak menggunakan bis antar daerah. Bis yang dinaiki bisa apa saja, asal melewat  Pantai Samudra Indah  daerah Bengkayang. Tarif setiap bis berbeda-beda. Mulai dari Rp.30.000,- sampai Rp.35.000,- per orangnya. Jam 07.30 pagi kami sampai di gerbang  Pantai Samudra Indah . Jarak dari gerbang ke dermaga cukup jauh. Pilihannya cuma dua. Jalan kaki atau naik ‘ojek’. Kalau yang ingin hemat dan menikmati daerah SI (Samudra Indah) dengan jalan santai, boleh-boleh saja. Tapi kalau yang membawa barang banyak atau anak kecil atau enggak kuat jalan? Saran saya lebih baik naik ‘ojek’. Sebenarnya ini ‘ojek’ bukan benar-benar ojek. Soalnya enggak ada pangkalannya. Tapi lebih tepatnya kita menumpang dengan warga yang kebetulan pergi menuju SI. Tarif naik ‘ojek’ ini Rp.10.000,-/motor